Upaya Indonesia Mendirikan RS Lapangan di Nepal

Upaya Indonesia Mendirikan RS Lapangan di Nepal

Upaya Indonesia mendirikan RSL

Rumah Sakit Lapangan Indonesia di Desa Satungal Sumber : SRC PB, 2015

Tim Indonesia mengalami hambatan untuk dapat mendirikan RS Lapangan di Nepal. Hal ini disebabkan ketidaktahuan Tim kemanusiaan Indonesia dengan mekanisme Foreign Medical Team (FMT). Ketika suatu negara meminta bantuan Internasional, maka ada lembaga dari UN yang berperan sebagai koordinator dalam menerima dan menempatkan bantuan termasuk bantuan medis. Mekanisme ini berada di bawah koordinasi United Nation Disaster Assessment and Coordination (UNDAC) dan untuk tim medis dikoordinasikan oleh WHO.

Tim Indonesia sudah berkoordinasi dengan pihak UN dengan melaporkan kekuatan dan jumlah tim. Hasil dari proses koordinasi dengan UN, Tim Indonesia dipersilakan untuk mendirikan RS Lapangan di samping RS Kantipur atau di belakang bandara di Kathmandu. Hal ini ditolak oleh Tim Indonesia, karena tidak banyak korban terdampak di wilayah tersebut. Lalu, Tim Indonesia meminta ijin kepada Kementerian Kesehatan di Nepal (Minister of Health and Population/MoHP) serta berkoordinasi dengan pihak UN untuk langsung melakukan assessment di lapangan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Bencana dan Kemanusiaan, Essay | Tag , | Meninggalkan komentar

Bila Warga Tidak Memilih Saya

Latihan Menulis Panjang

Pelatihan Menulis Jurnalistik di Planas.

Saat mengikuti pelatihan menulis jurnalistik silam, setiap peserta mendapatkan tugas menulis. Salah satunya yaitu menulis panjang hasil wawancara. Syaratnya yaitu wawancarai tidak harus tokoh namun bila tokoh mendapat nilai plus. Berhubung waktu hanya 1 malam untuk mengerjakan tugas, jadi saya hanya sempat mewawancarai ketua RT yang menurut saya tokoh masyarakat. hehehe.

Saat mempresentasikan hasil tulisan, Budi Setyarso mengatakan “Wah, pasti ini mewawancarai Ahok, judul nya Bila Warga Tidak Memilih Saya.” Saya menyahutnya bukan pak, saya menulis tentang pak RT. 

Selesai membacakan tulisan, ada masukan dari pemateri. “Saya suka pernyataan ini, Yang Penting adalah Kejujuran. Pesan disini sangat kuat. Coba judul nya pilih pernyataan ini.” Memang sesuai pemaparan pemateri, pada tulisan hasil wawancara, yang dijadikan judul tulisan adalah pernyataan narasumber yang cukup kuat. Berikut adalah tulisan lengkapnya, selamat membaca…

Bila Warga Tidak Memilih Saya

Banyak cara pengelolaan sampah rumah tangga di masyarakat.  Saat memiliki halaman, sebagian warga membakar sampah sebagai solusi mereduksi sampah. Bahkan, ada yang membuang sampah langsung ke Sungai. Sungai ibarat tempat sampah terluas sejagat raya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Menulis Populer | Tag | Meninggalkan komentar

Menulis Jurnalistik

P_20160503_184700_1_p (1)

Ternyata, ada beda yang cukup signifikan menulis untuk jurnalistik dengan tipe menulis lainnya. Berdasarkan hasil pembelajaran selama 4 kali pertemuan, berikut intisari dari menulis jurnalistik yang berlangsung pada 4, 5 dan 11, 12 Maret tahun 2016. Pelaksana kegiatan adalah Planas (Platform Nasional) dengan pemateri Budi Setyarso dari Tempo. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Aktivitas, Menulis Populer, Momen Kegiatan | Meninggalkan komentar

Orientasi Standar Inti Kemanusiaan (Core Humanitarian Standard/CHS)

Mengenal Core Humanitarian Standard

Core Humanitarian Standard

Suasana Oientasi CHS, Rabu, 2 Maret 2016 dengan Penyelenggara MPBI.

Tidak seperti kecoa yang menjadi hewan paling survive (tidak berevolusi) sepanjang zaman. Penanganan bencana mengalami evolusi dimulai dari tanggap darurat, kesiapsiagaan, mitigasi, sampai konsep Ketangguhan. Begitupun Aksi Kemanusiaan, yang kini memerlukan Kompetensi tidak cukup hanya Belas Kasih.

Standar Inti Kemanusiaan atau dalam bahasa Inggris CHS merupakan perangkat yang terdiri atas Sembilan Komitmen terhadap komunitas dan warga terdampak krisis yang menyatakan apa yang dapat mereka harapkan dari organisasi dan perorangan yang menyampaikan bantuan kemanusiaan. Setiap komitmen didukung oleh sebuah kriteria mutu yang menandakan bagaimana organisasi kemanusiaan dan staff harus bekerja untuk memenuhinya. CHS bukan sebuah kewajiban, CHS adalah sebuah pilihan, bila sebuah organisasi/ perseorangan berkomitmen menerima CHS, maka organisasi/ perseorangan tersebut berusaha meningkatkan kualitas dan akuntabilitas dalam pelayanan bantuan kemanusiaan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Aktivitas, Bencana dan Kemanusiaan | Meninggalkan komentar

Sidang Tesis 26 Februari 2016

Jumat, 26 Februari 2016

sidang tesis 26 Februari 2016

Rekan 1 dosen pembibing Giovenni (tengah) dan Fretha Julian (kanan), yg telah sidang tesis pd 11 Februari 2016.

Jumat, 26 Februari 2016, hujan besar hadir di pagi hari ini. Meski rasanya ingin menarik selimut lalu kembali ke pulau Kapuk, rasanya tidak pas karena pagi ini jadwal sidang tesis pukul 08.00 waktu Unhan. Momen yang sangat dinantikan penulis setelah 7 bulan berkutat dengan ‘TESIS’. Setelah mendaftar sidang pada Rabu 24 Feb ’15 (menyerahkan naskah dan dijadwalkan hari Jumat 26 Februari pkl 14.00 WIB), ternyata ada perubahan pkl 08.00 WIB. Alhasil saat itu panic attack, menjadi pembelajaran penting komunikasikan kembali kesediaan dosen pembimbing  (waktu pastinya pkl berapa) sebelum menyerahkan naskah. cmiw.

Diawali dengan pergantian judul, kebingungan yang teramat sangat karena metode kualitatif, serta topik yg masih awam bagi penulis sendiri. Singkat cerita, ternyata benar kita dapat memahami kualitatif saat di lapangan, pentingnya memiliki pemahaman awal yang baik ttng fenomena yg dikaji serta memiliki hubungan yg baik (raport) yg baik kepada narasumber. Karena besar kemungkinan pada penelitian kualitatif kita akan kembali berkomunikasi dengan narasumber. 

Terima kasih kepada semua pihak yg telah membantu memotivasi, membantu teknis penulisan, serta yg telah mendengarkan keluh kesah penulis. Dengan bantuan kalian semua, tulisan ini dapat rampung. Meski jauh dari sempurna, semoga karya di bawah bimbingan Dr Sutopo Purwo Nugroho M.Si APU dan Marsma TNI Sri Widodo M.Si (Han) ini bermanfaat untuk seluruh pihak yg memerlukan serta yg ingin membacanya.

Salam Tangguh Kawans…

Dipublikasi di Aktivitas, Momen Kegiatan | Tag , , | 5 Komentar

Lesson Learned Kasepuhan Ciptagelar Mengelola Hutan

IMGP0983

Persawahan di Kasepuhan Ciptagelar Foto dok. pribadi

Bila ditelisik lebih dalam, berbagai fenomena alam yang menjadi bencana seperti kekeringan adalah akibat perbuatan manusia yang tidak bijak dalam mengelola sumber daya alam. Krisis air bersih dan banjir akibat tutupan hutan yang semakin terkikis, merupakan realita yang kini sering terjadi di banyak tempat di bumi Nusantara. Sebagai refleksi diri, maka perlu pembelajaran (lesson learn) yang baik bagaimana masyarakat mengelola sumber daya alam di sekitar lingkungannya.

Hutan merupakan salah satu kekayaan alam terbesar yang dititipkan Sang Pencipta untuk bangsa Indonesia. Ubbe (2013) menuliskan bahwa menurut Undang-Undang Kehutanan No 41 tahun 1999 tentang kehutanan, hutan menjadi modal pembangunan nasional yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan dan penghidupan bangsa Indonesia, baik manfaat ekologi, sosial budaya maupun ekonomi, secara seimbang dan dinamis. Oleh karena itu hutan harus diurus dan dikelola, dilindungi dan dimanfaatkan secara berkesinambungan bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia, baik generasi sekarang maupun yang akan datang.

Mahkamah Konstitusi (MK) menyatakan hubungan negara dengan sumber daya alam sebagaimana tertuang dalam Pasal 33 ayat (2) dan ayat (3) UUD 1945 diturunkan ke dalam lima fungsi yaitu pengaturan, pengelolaan, kebijakan, tindakan pengurusan dan pengawasan. Pada tahun 2013, MK mengabulkan sebagian uji materi UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan yang isinya antara lain menegaskan hutan adat bukan hutan negara. Ini artinya keberadaan masyarakat adat menjadi sangat vital dalam mengelola hutan, mengingat sebanyak 50-70 juta masyarakat adat tinggal di kawasan hutan (AMAN).

Hutan melingkupi hampir sepertiga daratan dunia dan nyaris seluruhnya dihuni oleh masyarakat adat dan masyarakat pedesaan yang telah mengembangkan cara hidup dan pengetahuan tradisional yang selaras dengan lingkungan hutan mereka. Masyarakat-masyarakat ini telah dan terus mengelola lingkungan mereka lewat sistem mereka yang didasarkan pada pengetahuan, praktik, aturan dan keyakinan tradisional mereka secara turun temurun (pemanfaatan secara adat) (Chao, 2012). Berbicara mengenai pengelolaan sumber daya alam termasuk hutan, salah satu pendekatan yang menarik untuk dibahas adalah persepsi atau cara pandang masyarakat terhadap alam sehingga didapatkan pengetahuan, praktik, aturan dan keyakinan yang dapat menjadi refleksi diri masyarakat lainnya.

Ada tiga teori yang berbeda dalam cara pandang tentang manusia, alam dan hubungan manusia dengan alam, yaitu antroposentrisme, biosentrisme dan ekosentrisme. “Kalau antroposentrisme menggugah manusia untuk menyelamatkan lingkungan hidup, itu didasarkan pada alasan bahwa lingkungan hidup dan alam semesta dibutuhkan manusia demi memuaskan kepentingannya. Biosentrisme justru sebaliknya menolak argument antroposentrisme ini. Bagi biosentrisme, tidak benar bahwa hanya manusia yang mempunyai nilai. Alam juga mempunyai nilai pada dirinya sendiri lepas dari kepentingan manusia” (Keraf, 2010). Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Essay | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Memperkuat “Emotional Bonding” melalui Piknik

Bogor – Sukabumi, 25 26 Juli 2015

Kalo bicara menciptakan, merawat dan meningkatkan “Emotional Bonding” antara aku kamu dan kita semua. Siapa pun kamu, Dimanapun kamu menghimpun diri dalam berkomunitas, Kapanpun waktu yang tersedia di tengah aktivitasmu yang padat, Bagaimanapun caranya, Usahakan untuk tetap berjalanlah bersama …. Apapun bentuk perjalananannya, Karena kamu ga butuh pertanyaan Mengapa kita melakukan perjalanan ini kawan?? Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Menulis Populer | Tag , , | 6 Komentar

Ketangguhan Masyarakat Menghadapi Bencana

Ketangguhan Masyarakat Menghadapi Erupsi Merapi 

erupsi merapi

Erupsi Merapi tahun 2010, sumber foto : Badan Geologi – PVMBG (internet)

Salah satu strategi untuk menuju ketangguhan bangsa adalah membuat masyarakat di daerah menjadi tangguh. Ketangguhan tersebut dapat didefinisikan dalam empat elemen: Pertama, masyarakat memiliki daya antisipasi. Kedua, masyarakat harus punya daya pengurangan risiko dengan cara menghindari maupun menolak. Ketiga, adaptasi masyarakat. Keempat, masyarakat mempunyai daya lenting atau “Bounce Back.‟ Bila mengacu pada Christophe Bene et al. dalam buku Asmaradana Merapi (2014), ada tiga komponen ketangguhan yaitu kemampuan meredam (absorb) ancaman, kemampuan beradaptasi dan kemampuan mengusahakan transformasi. Sebuah kelompok warga harus memiliki ketiga unsur tersebut agar dapat dikatakan tangguh secara ideal.

Komponen ketangguhan yang terjadi di masyarakat sekitar lereng Gunung Merapi yaitu adanya kemampuan meredam ancaman yang terjadi ketika kelompok rumah tangga atau masyarakat yang dapat menghadapi dampak guncangan tanpa terjadi perubahan fungsi, status atau kondisi. Cara meredam dampak ancaman gunung api antara lain menghindar sebelum terjadi erupsi, membantu kelancaran penyebaran informasi bahaya, efektivitas evakuasi, dan pembangunan infrastruktur seperti sabo dam yang bermanfaat memperlambat laju lahar untuk mencapai pemukiman warga.

sabo dam

Sabo Dam untuk menghambat laju lahar yang mengalir dari Erupsi Gunung Merapi, sumber foto : internet

Jaringan relawan memiliki peranan penting dalam tahap tanggap darurat contohnya sebagai pusat informasi mengenai status bahaya Gunung Merapi. Salah satu komunitas relawan adalah Satuan Siaga Penanggulangan Bencana (Satgana) Cakra-PMI Kecamatan Pake di Sleman. Pasca bencana Merapi tahun 2010 Satgana Cakra PMI Pakem menjadi pendorong utama upaya pemerintah Kabupaten Sleman menyatukan komunitas relawan Penanggulangan Bencana bernama Forum Komunitas Lintas Relawan (Foklar). Kelompok relawan ini bergabung dalam sistem kolektif dengan institusi lain membentuk sistem peredam ancaman. Para relawan bertugas memastikan orang dan aset sudah tiba di tempat aman saat BPPTKG bekerja mendeteksi ruang dan waktu kedatangan ancaman. Dengan adanya kemudahan akses informasi, maka risiko dapat ditekan dan proses penanggulangan pascabencana menjadi lebih ringan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Bencana dan Kemanusiaan, Menulis Populer | Tag , , | Meninggalkan komentar

Kepemimpinan Strategis

Peran Pemimpin Dalam Formulasi Maupun Implementasi Strategi

berpikir strategic

sumber : internet

Strategi merupakan rumusan untuk mencapai visi, misi, dan tujuan organisasi. Tiga hal penting dalam strategi adalah means, end dan way, yaitu mengetahui dan memahami tujuan yang ingin dicapai dengan melihat sumber daya yang ada pada organisasi serta jalan yang ditempuh menuju tujuan tersebut. Proses dalam pelaksanaan strategi yaitu melihat lingkungan, memformulasikan strategi, mengimplementasikan strategi dan mengevaluasi mengontrolnya.

Sebagai calon pemimpin organisasi, penting bagi saya memahami proses tersebut. Peran yang harus dilaksanakan adalah memahami dinamika kondisi internal dan eksternal organisasi, membangun tim untuk merumuskan formulasi strategi, memimpin organisasi dalam mengimplementasikan strategi dan melakukan evaluasi dan kontrol secara berkelanjutan agar strategi terlaksana secara efisien dan efektif.

Untuk mendapatkan formulasi strategi, pemimpin melaksanakan tahapan-tahapan orientasi, evaluasi dan kontrol. Pada tahapan orientasi, pemimpin mengintegrasikan pandangan dan opini anggotanya. Hasil dari orientasi adalah data. Evaluasi dilakukan untuk mengolah data sehingga diperoleh beberapa alternatif kebijakan. Selanjutnya dilakukan kontrol terhadap alternatif yang dipilih dengan hasil dokumen tertulis. Pemimpin harus selalu mencari lebih dalam dan mengintegrasikan informasi dalam melaksanakan orientasi, evaluasi dan kontrol.

Implementasi strategi sangat didukung oleh program, anggaran dan prosedur. Menentukan program yang akan dilaksanakan harus berdasarkan visi misi organisasi, kekuatan dan kelemahan organisasi dan kebutuhan organisasi. Salah satu alat analisis yang dapat digunakan adalah analisis SWOT (Strengh, Weakness, Opportunity, Thread), yaitu memetakan kekuatan dan kelemahan organisasi (kondisi internal) dan memetakan peluang dan ancaman organisasi (kondisi eksternal).

Pemimpin strategis dalam hal ini pimpinan organisasi harus sadar bahwa ia adalah simbol organisasi. Dalam kesehariannya, pemimpin harus menjadi panutan bagi anggotanya. Seluruh pemikiran, sikap dan perilaku yang ditunjukkan pemimpin dinilai pihak luar yang mencerminkan organisasinya. Maka, dalam setiap pengambilan keputusan, pemimpin strategis harus mempertimbangkan secara bijak dengan berpandangan kedepan (melihat dampak terhadap organisasi.)

Pemimpin memahami posisi strategisnya untuk mengimplementasikan strategi. Pemimpin strategis memiliki unit-unit (yang secara hirarki berada di bawah pemimpin) yang membantunya untuk melaksanakan teknis atau kegiatan turunan dalam mendukung pencapaian strategi organisasi. Maka, pemimpin harus memfokuskan perhatian yang lebih kepada Sumber Daya Manusia (SDM) di organisasi, karena SDM adalah yang utama. Baik buruknya, sukses gagalnya strategi suatu organisasi sangat tergantung bagaimana SDM menjalankan roda-roda organisasi. Jadi menurut saya, peran yang diambil sebagai seorang pemimpin setelah memahami kondisi internal dan eksternal organisasi adalah pemimpin harus mampu membangunkan dan menggerakkan SDM organisasi agar selalu bergairah dalam proses memformulasikan dan mengimplementasikan strategi.

Dipublikasi di Menulis Populer | Tag | Meninggalkan komentar

Ikut Training of Trainers Manajemen Dasar Penanggulangan Bencana

Belajar Jadi Fasilitator dengan Metode ICARE

Ikut TOT manajemen dasar penanggulangan bencana

Foto bersama 3 mahasiswa MB Cohort 5, dan senior MB Cohort 4 (kanan).

Alhamdulillah, kami 3 orang mahasiswa UNHAN prodi MB mendapatkan kesempatan ikut TOT (Training of Trainers) yang diselenggarakan oleh BNPB. Acara berlangsung 5 s/d 9 Oktober, namun kami ikut mulai tgl 7 hingga selesai. Kesempatan ini kami manfaatkan dengan baik mengingat tujuan dari kegiatan ini adalah menciptakan agen-agen yang dapat memberikan pelatihan manajemen dasar sesuai kebutuhan selengkapnya klik TOT Manajemen Dasar BNPB.

Selain mendapatkan materi yang disampaikan oleh para ahlinya, kami diberi studi kasus melaksanakan Micro Teaching. Metode yang digunakan yaitu ICARE, I (Introduction), C (Connection), A (Application), R (Refleksion), E (Extension). Maknanya, pada tahap awal peserta sebaiknya memperkenalkan diri terlebih dahulu kepada para peserta. Tak kenal maka tak sayang bukan? Setelah itu fasilitator menyapa peserta, memberikan brainstorming agar peserta terkoneksi dengan fasilitator. Biasanya peserta memberikan semacam ice breaking (berupa permainan singkat) yang membuat peserta dapat tersenyum. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Bencana dan Kemanusiaan, Seputar UNHAN | Tag , , , | 2 Komentar